Berau BreakingNews.

Lembaga Aliansi Indonesia dan badan penelitian Aset Negara Mohammad Idris mengungkap ada dugaan kejanggalan dan bau aroma korupsi pengadaan seribu yunit Laptop yang bernilai Miliaran rupiah yang diadakan dinas pendidikan kabupaten Berau tahun 202i -tahun 2022
Oplus_0
Dikatakannya dari hasil investigasi kami dilapangan saat itu sempat melihat dan mengecek beberapa barang laptop yang sudah dibagikan keguru penerimah, iya katakan laptop yang dibagikan tersebut diduga tidak sesuai Speck.
” kami telah cek di beberpa sekolah penerimah dimana laptop yang telah dibagikan dan diterimah guru tak lain adalah Notbook, yang sering kita jumpai dan dijadikan anak anak bermain Game,sehingga tidak bisa digunakan untuk menunjang kegiatan pendidikan, ungkapnya.
Lebih jauh dikatakan Aliansi oemantau Aset ini, antara barang yg sdh dimasukkan dlm lelang e katalog dgn barang yg diterima guru juga tdk sama.
makanya ini perlu dipertanyakan, dan kalau memang ini ada dugaan aromah bau korupsi kami akan bersurat ke Komisi Pemberatasan Korupsi(KPK) agar pengadaan Laptop ini diperiksa, tuturnya.
Sementara itu pejabat pembuat komitmen(PPK) saat itu di jabat H.Eka ST. ketika di temui pada 8/04/24, menegaskan bahwa pengadaan seribu yunit laptop pada tahun 2021 sampai 2022 tersebut kami memastikan telah sesuai Speack serta standar prosedur, dan berdasarkan ketentuan.
Dikatakannya, sebelum barang ini dikirim oleh pihak menyedia yang berada di jakarta, terlebih dahulu kami lakukan pengecekan barang.
Kami memastikan berjumlah 460 Buah laptop yang dipesan dan masuk di bidang SMP semuanya aman
Lanjut Eka,tahun lalu sekitar empat orang utusan termasuk saya selaku PPK berangkat dan datangi reseler atau toko elektronik tersebut. karna pada tahun itu merupakan tahun pandemi kovid kami tidak d ijinkan melihat barang tersebut(laptop) ke gudang pemilik Reseler karena saat itu lagi loocdown maka kami hanya di layani ditoko elektroniknya sambil diperlihatkan merek dan jenis barang.
Disitu terdapat dua jenis, laptop dan notbook.,
dari kedua jenis barang ini Speack sama namun type beda, laptop besar sedangkan Notbook kecil.
namun kalau kami berpendapat notbook barang yang sama mudah di jinjing, sifatnya mubael dan bisa kita bawa kemana mana , ungkap pak Eka.saat memberikan keterangan resmi diruang kerjanya.
Lebih jauh dijelaskannya, kita punya impian mengadakan laptop speck tinggi tapi anggaran terbatas.
Maka kami menggambarkan ibarat membeli baju harga rp.500 dan yang rb.50, maka tentu kita cari harga yang setandar diharga yang bisa terjangkau dengan anggaran yang ada.
Dijelaskannya saat barang ini telah sesuai dengan Speack dan anggaran yang ada, kamipun meminta pada reseler agar barang dikirim dan diadakan sesuai dengan harga dan Speacknya.
Barang ini dikirim tiga kali diadakan oleh pemilik elektronik dan mereknyapun berbeda beda beda, namun walau merek berbeda tetapi kegunaannya sama untuk keperluan para guru guru di sekolah karena speknya sesuai kebutuhan.
Dikatakannya ada 47 sekolah SMP negri saat itu yang penerimah laptop masing masing sekolah menerimah 10 buah.adapun pengadaannya bertahap yaitu ditahun 2022 dua kali pengiriman, dan pembayarannya menggunakan dana ABT sebesar Rp 8.45.000.000 sekian dan yang kedua ditahun dianggaran yang sama sebesar Rp. 1.600.000.000,.
Sedangkan ditahun 2023. Terjadi satu kali pengadaan,dan pembayarannya menggunakan dana APBD murni sebesar. Rp.1.600.000.000. ini besaran pengadaan di bidang SMP. Kata pak Eka.
Terkait penyedia jasanya atau kontraktor pelaksananya pak Eka Enggan menyebutnya, namun barang ini di belanja secara e’Catalog. atau aplikasi belanja Online, dan iya pastikan ada pihak penyedia, namun tdk bisa disebutkan nanti banyak yang tau dan menyerbu ke kami.ungkapnya.

Terkait pengadaan laptop dikaatakannya, pengadaan ini kita tunggu sampai beberapa hari setelah barang ini tiba dikantor tidak berselang lama langsung dibagikan kepada guru guru sekolah.
diketahui juga guru penerimah merupakan bagian dari pungsi pengawasan, dan apabila laptop tersebut dioperasikan dan kemudian hari bermasalah mereka para guru melaporkan kedinas dan kami di dinas kembalikan kepada pihak penyedia di jakarta dan di ganti dengan yang baru.
Disamping guru guru dalam pengadaan barang tersebut kami juga diawasi oleh inspektorat, dan BPKP, tidak semesta merta kami belanjakan karna ada pengawas internal seperti inspektorat dan BPKP.
Dikatakannya Pengadaan barang laptop ini sudah sesuai dengan ketentuan dan pedoman yang ada, karna dalam perjalanan mengadakan barang di pantau dan diawasi oleh Inspektorat dan BPKP ,ungkap pak Eka yang pada saat itu menjabat sebagai Pejabat pembuat Komitmen atau PPK.
(*Kontributor Tim *)